Archives

Author Archive

Ini jeritan hati seorang guru. Mungkin sekali juga jeritan hati seorang dosen dan orang tua. Mari kita hitung. Berapa lama mendidik seorang anak sejak dari taman kanak-kanak (TK) sampai berhasil menjadi sarjana.

Lalu masih harus berjuang lagi jika ingin menempuh strata S-2, kemudian naik lagi S-3. Itu semua mungkin memerlukan waktu minimal 20 tahun. Untuk berhasil meraih gelar profesor, seorang dosen bahkan perlu perjuangan lanjutan lagi. Bayangkan, betapa banyak biaya dan pengorbanan yang mesti dikeluarkan baik tenaga, pikiran, uang, maupun emosi.

Membayangkan itu semua maka sangat wajar kalau acara wisuda sarjana merupakan hari kegembiraan dan pelepasan dari semua lelah serta penantian panjang. Orang tua berbondong-bondong ke kampus untuk menyaksikan hari bersejarah itu. Para wisudawan mengenakan pakaian toga simbol kelahiran kembali sebagai seorang yang telah dewasa secara intelektual. Mereka berfoto ria untuk mengabadikan momen yang amat mahal dan langka dalam hidup seseorang.

Demikianlah, dengan bekal kesarjanaan, seseorang lalu menapaki jalan hidup serta karier lebih lanjut. Di antara mereka ada yang berkarier sebagai akademisi di lingkungan kampus dan ada pula yang berkarya di jajaran birokrasi pemerintahan ataupun di sektor swasta. Saya sebagai seorang guru, dosen, dan sementara ini dipercayai sebagai pimpinan universitas akhir-akhir ini dibuat sedih dan merenung membaca berita berbagai skandal korupsi yang dilakukan oleh mereka yang latar belakang pendidikannya sarjana, bahkan ada yang dikenal sebagai akademisi dan profesor.

Sungguh situasi ini membuat pilu. Sebagai seorang guru dan dosen pasti sedih, bertanya-tanya, apa yang salah dengan dunia pendidikan kita? Secara teoritis-normatif seorang sarjana pasti tahu bahwa korupsi itu jahat, bagaikan virus yang akan merusak jaringan tubuh birokrasi yang berujung pada kelumpuhan. Birokrasibukannya bekerjaproduktif memajukan bangsa dan melayani rakyat, melainkan hanya menghabiskan APBN untuk membayar gaji bulanan dan biaya proyek yang jadi kenduri para koruptor.

Kami bertanya-tanya. Apakah pendidikan yang salah, atau mental pejabat kita yang sangat rapuh, ataukah sistem dan kultur birokrasi kita yang ganas dan akan menggilas siapa pun yang bergabung? Saya tidak tahu persis apa jawabannya. Namun, yang pasti hari-hari ini serasa melihat mendung hitam menutupi dunia kampus.

Kita ingin suasana di luar kampus memberikan inspirasi dan motivasi kepada mahasiswa bahwa jalan terbaik untuk meraih sukses adalah belajar keras, menjaga integritas, dan mengembangkan keahlian serta keterampilan komunikasi. Tetapi sangat memilukan, yang selalu saja menjadi sumber pemberitaan adalah drama politik, berita korupsi, mafia hukum, dan dunia selebritis. Saya selalu membayangkan, setiap tahun berapa puluh ribu sarjana diwisuda di seluruh Indonesia.

Tetapi bersamaan dengan itu selalu muncul kepedihan dan pesimisme mengingat sarjana yang kualitasnya bagus dan mudah memperoleh lapangan kerja yang ideal pasti jumlahnya minoritas. Lebih menyedihkan lagi kalau ternyata lapangan kerja yang dimasuki kulturnya busuk. Bertahun-tahun belajar untuk meraih sarjana agar memperoleh lapangan kerja, tapi sampai di tempat kerja, godaannya terlalu berat.

Teori dan etika yang dipelajari di sekolah dijungkirbalikkan. Yang jujur malah terpinggirkan. Yang edan yang kebagian. Begitu pun bagi aktivis mahasiswa yang semasa di kampus menggebu- gebu antikorupsi, ketika bergabung ke parpol atau birokrasi secara drastis berubah perilaku dan gaya hidupnya. Mereka berbuat persis seperti yang mereka kecam ketika sebagai aktivis mahasiswa.

Ada juga aktivis mahasiswa yang sudah pintar bermain “proyek”dan keterampilan itu dilanjutkan setelah jadi sarjana dan aktif di parpol atau birokrasi pemerintahan. Yang paling membuat kesal tentu saja jika aparat penegak hukum, khususnya polisi, jaksa, dan hakim, dengan seenaknya mempermainkan pasal undang-undang (UU) dan hukum sebagai medium untuk mengejar uang haram.

Langit hitam menutupi kampus. Serasa sia-sia menyelenggarakan pendidikan dengan biaya yang mahal kalau instansi lain malah merusak jerih payah guru dan dosen. Atau memang ada yang salah dalam sistem dan kultur pendidikan kita sehingga tidak melahirkan pribadi yang tangguh dengan keterampilan tinggi.

Begitu sulit panitia seleksi mencari komisioner yang andal, sesulit mencari sebelas pemain sepak bola kelas dunia dari dua ratus juta lebih penduduk Nusantara. Kita cukup puas dan bahagia dapat menikmati piala dunia. Hanya sampai di situ saja. Kita mengagumi sebuah negara demokratis, bebas korupsi, dan rakyatnya makmur. Sementara ini cukup hanya kagum saja dulu.

Prof. DR. Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Indonesia. IPB membawa nama pertanian yang jarang dipakai oleh Perguruan Tinggi lain bahkan mungkin tidak ada Perguruan Tinggi Negeri lain di Indonesia yang memakai nama Pertanian.

Sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang menyandang predikat “World Class University” dan dengan motto “mencari dan memberi yang terbaik”, IPB membekali para generasi muda bangsa ini dengan ilmu-ilmu yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Namun, jangan berpikiran sempit kalau IPB itu hanya menyediakan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pertanian saja! IPB menyediakan juga berbagai jurusan diluar jurusan-jurusan yang berbau pertanian. Untuk lebih jelasnya berikut adalah jurusan-jurusan yang ada di IPB sampai saat ini:

Program Diploma  (3 Tahun)

  1. Komunikasi
  2. Ekowisata
  3. Manajemen Informatika
  4. Teknik Komputer
  5. Supervisor Jaminan Mutu Pangan
  6. Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi
  7. Teknologi Industri Benih
  8. Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya
  9. Teknologi dan Manajemen Ternak
  10. Manajemen Agribisnis
  11. Perencanaan dan Pengendalian Produksi Manufaktur/Jasa
  12. Analisis Kimia
  13. Teknik dan Manajemen Lingkungan
  14. Akuntansi
  15. Perkebunan Kelapa Sawit *
  16. Teknologi Produksi & Pengembangan Masyarakat Pertanian *

*Untuk jurusan nomor 15 dan 16, ini merupakan jurusan jalur beasiswa.

Perkebunan Kelapa Sawit merupakan beasiswa dari Perusahaan Kelapa Sawit Sinarmas.

Teknologi Produksi & Pengembangan Masyarakat Pertanian merupakan beasiswa Pemerintah Daerah (Pemda) Propinsi Jawa Barat bagi para siswa yang berdomisili di Jawa Barat.

Program Sarjana

  1. Fakultas Pertanian
    1. Agronomi dan Hortikultura
    2. Arsitektur Lankaps
    3. Ilmu Tanah dan Smber Daya Lahan
    4. Proteksi Tanaman
  2. Fakultas Kehutanan
    1. Hasil Hutan
    2. Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
    3. Manajemen Hutan
    4. Silvikultur
  3. Fakultas Peternakan
    1. Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
    2. Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
  4. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
    1. Budidaya Perairan
    2. Ilmu dan Teknologi Kelautan
    3. Manajemen Sumberdaya Perairan
    4. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
    5. Teknologi Hasil Perairan
  5. Fakultas Kedokteran Hewan
    1. Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi
    2. Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner
    3. Klinik, Reproduksi, dan Patologi
  6. Fakultas Teknologi Pertanian
    1. Ilmu dan Teknologi Pangan
    2. Teknik Mesin dan Biosains
    3. Teknologi Industri Pertanian
    4. Teknik Sipil dan Lingkungan
  7. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
    1. Biokimia
    2. Kimia
    3. Fisika
    4. Geofisika dan Meteorologi
    5. Ilmu Komputer
    6. Biologi
    7. Matematika
    8. Statistika
  8. Fakultas Ekonomi dan Manajemen
  9. 1.
  10. 1.Ilmu Ekonomi
  11. Manajemen
  12. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan
  13. Agribisnis
  14. Fakultas Ekologi Manusia
  15. Gizi Masyarakat
      1. lmu Keluarga dan Konsumen
      2. Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Program Sarjana

Institut Pertanian Bogor sangat perhatian dan selalu berupaya secara maksimal untuk memberikan pelayanan pendidikan terbaik dan adil kepada semua golongan sosial ekonomi lulusan SMA seluruh Indonesia yang berpotensi menimba ilmu di IPB. Kehadiran pola seleksi USMI dan biaya pendidikan mahasiswa baru yang tercantum pada tabel di lampiran ini merupakan bagian dari kebijakan itu.

IPB sangat menghargai kepedulian berbagai pihak yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa IPB, termasuk bantuan biaya SPP untuk beberapa mahasiswa baru yang sangat memerlukan. Setiap tahun, tidak kurang dari 5 milyar rupiah beasiswa diberikan oleh berbagai pihak kepada mahasiswa IPB. Selain itu, IPB menetapkan biaya pendidikan dengan pola subsidi silang seperti tercantum pada tabel biaya pendidikan di bawah ini. Sepuluh persen pelamar terseleksi terbaik dari sekolah ’terakreditasi’ A oleh IPB dapat memperoleh keringanan Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas hingga 50 %.

Orang tua/wali siswa pelamar harus melengkapi satu dari dua jenis Surat Pernyataan Biaya Pendidikan di IPB (Lampiran 2A ataukah 2B). Apabila siswa pelamar diterima di IPB, maka fotokopi bukti pembayaran wajib dikirimkan secara kolektif oleh sekolah ke IPB sesuai dengan jadwal yang tercantum pada lampiran tersebut.

Informasi tentang sumber biaya pendidikan pada Lampiran tersebut di atas dimaksudkan sebagai masukan untuk terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi putra putri Anda ketika menjadi mahasiswa IPB dan sama sekali bukan bagian dari kriteria seleksi atau sumber data bagi pihak lain. Prioritas kebijakan operasional IPB dalam peningkatan kualitas dan penyelenggaraan pendidikan sangat dipengaruhi oleh keakuratan data tersebut.

Penghasilan Kotor Bulanan Orang Tua/Wali (P)

Biaya Registrasi Mahasiswa Baru

SPP per Tahun

BPMB

AI

Asrama

POM

Kategori BPIF

BPMP

BPMK

I

II

P <= 500 ribu 700 ribu 500 ribu Kamar :

1.200.000

setahun

0 0 0 0 Tahun pertama 810.000,-

Tahun berikutnya:

20.000  s/d 50.000 per SKS

P = 500 ribu s/d  1 juta 350 ribu 3 juta 1,5 juta 1 juta
P = 1 juta  s/d  2,5 juta 400 ribu 6 juta 3,5 juta 1,6 juta
P =  2,5 juta  s/d   5 juta 450 ribu 10 juta 6,5 juta 2,4 juta
P =  5 juta s/d   7,5 juta 500 ribu 15 juta 10,5 juta 3,4 juta
P = 7,5 juta  s/d  10 juta 550 ribu 21 juta 15,5 juta 4,6 juta
P = 10 juta  s/d  15 juta 650 ribu 25 juta 20 juta 5,8 juta
P > 15 juta 750 ribu 30 juta 24,5 juta 7 juta

Keterangan:

a.  Biaya registrasi menjadi mahasiswa baru IPB

BPMB (Biaya Perlengkapan Mahasiswa Baru) digunakan untuk Tes Potensi Akademik, Program Pembinaan Akademik dan Multi Budaya, Program Penyangga Kesehatan dan Penanggulangan Kecelakaan Mahasiswa, Kegiatan Alih Tahun, Buku Pengantar Ilmu  Pertanian, Kartu Mahasiswa/ATM Bank, Jaket Almamater, dan Buku Panduan IPB.

AI  (Akses Internet)

Pada tahun pertama di IPB dilaksanakan Program Pembinaan Akademik dan Multi Budaya, karena itu mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama. Biaya Asrama meliputi biaya kamar sebesar Rp 1.200.000,- per tahun dan deposit asrama Rp 100.000,-. Biaya deposit akan dikembalikan setelah dikurangi biaya kerusakan fasilitas kamar asrama yang diakibatkan oleh mahasiswa yang bersangkutan.

POM (Iuran Perhimpunan Orangtua Mahasiswa) digunakan untuk beasiswa mahasiswa kurang mampu dan membantu pembiayaan kegiatan intra dan ekstrakurikuler.

BPIF (Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas) digunakan untuk membiayai program pemeliharaan infrastruktur dan fasilitas pendidikan.

b.  Biaya SPP selama menjadi mahasiswa IPB

BPMP (Biaya Peningkatan Mutu Pendidikan) digunakan untuk peningkatan pelayanan administrasi dan penjaminan mutu pendidikan.

BPMK (Biaya Penyelenggaraan Mata Kuliah) digunakan untuk terselenggaranya perkuliahan, praktikum, dan pembimbingan mahasiswa.

Tahun pertama sebesar Rp. 810.000.-  untuk 36 satuan kredit semester (sks).

Tahun-tahun berikutnya sebesar Rp. 20.000.- s/d Rp. 50.000.- per sks. BPMK tergantung kepada jenis mata kuliah dan jumlah sks yang diambil. Setiap tahun, seorang mahasiswa mengambil mata kuliah sekitar 36 sks.

c.    Biaya lainnya yang menjadi tanggungan mahasiswa

Biaya hidup bulanan (selain tempat tinggal) di Bogor sekitar 700 ribu rupiah.

Biaya alat tulis, buku pembelajaran, praktik umum lapangan, penelitian/penyelesaian tugas akhir, dan sejenisnya.

d.    Keringanan Biaya Pendidikan Tahun Pertama bagi pelamar berprestasi terbaik

Keringanan Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas (BPIF) hingga 50 % diberikan kepada maksimal sepuluh persen pelamar terseleksi yang terbaik dari sekolah ’terakreditasi’ A oleh IPB.

Keringanan biaya pendidikan tahun pertama (AI, Asrama, POM, BPMK, dan separuh dari BPMB) senilai Rp. 3.310.000,- (tiga juta tiga ratus sepuluh ribu rupiah) dapat diberikan IPB kepada mahasiswa baru dengan potensi akademik terbaik dan berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi. Orang tua/wali mahasiswa hanya wajib membayar separuh dari BPMB sebesar Rp. 350.000,- (tiga ratus lima ribu puluh rupiah) dan harus melengkapi formulir Lampiran 2B.

Program Diploma

Program Diploma IPB memiliki beberapa kampus yang digunakan, namun kalau diliihat dari region wilayahnya ada 2, yakni: Kampus Bogor dan Kampus Jakarta.

  • SPP Kampus Bogor sebesar Rp. 2.500.000,00 (dua juta limaratus ribu rupiah) per semester.
  • SPP Kampus Jakarta sebesar Rp 3.500.000 (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) per semester.

Biaya Non SPP untuk kegiatan Kemahasiswaan, Program Penyangga Kesehatan dan Penanggulangan Kecelakaan, Kartu Mahasiswa, Buku Panduan Program Diploma IPB, Jaket Almamater, dan lain-lain sebesar Rp. 650.000,00 (Enamratus Lima Puluh Ribu Rupiah), dibayarkan satu kali hanya pada saat registrasi ulang.

Biaya pengembangan fasilitas sebesar Rp. 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) untuk kampus Bogor, dan Rp 4.000.000 (empat juta rupiah) untuk kampus Jakarta, dibayar satu kali pada saat registrasi ulang.

Setiap tahunnya, IPB menerima mahasiswa baru dari segenap penjuru tanah air dan tentu saja menimbulkan permasalahan bagaimana sang mahasiswa harus hidup di Bogor.

Secara umum komponen biaya hidup terdiri atas biaya pemondokan, makan, biaya transportasi, kuliah, hiburan, dan kegiatan kemahasiswaan.

Biaya pemondokan di sekitar Kampus Cilibende berkisar antara Rp. 2.000.000,00 sampai Rp. 3.000.000.00 per tahun, Untuk kebutuhan makan biasanya diusahakan sendiri seperti di warung makan, katering (rantangan), atau memasak sendiri. Besarnya harga setiap kali makan berkisar antara Rp. 3.500,00 sampai Rp. 5.000,00.

Selain itu biaya pemenuhan keperluan perlengkapan pribadi umumnya sebesar Rp. 50.000,00 rata-rata yang dibutuhkan pada tiap bulannya. Sedangkan transportasi menuju kampus hanya ditempuh dengan satu kali naik kendaraan, bahkan beberapa tempat cukup ditempuh dengan jalan kaki.

Biaya buku, diktat, dan fotocopy setiap bulannya rata-rata sebesar Rp. 100.000,00 per bulan, namun demikian IPB memiliki Perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa.

Sada tikki, di parnakkok ni mataniari, laho do manussi pahean huhut naeng maridi Boru Saroding tu Tao Toba. Huta ni natorasna di holang-holang ni Palipi-Mogang do, marbariba ma tu Rassang Bosi dohot Dolok Martahan. Nauli do rupani boru Saroding on. Imana ma ninna na umbagak sian boru Pandiangan uju i. Tung mansai godang do ro baoa manopot ibana, sian huta na dao dohot bariba ni tao pe ro do naeng patuduhon holong tu ibana. Alai dang adong manang sada pe naboi mambuat rohana; namora manang najogi, mulak balging do sude. Alai dang adong namarhansit roha dibahen ibana, tungpe dang dioloi ibana hata ni akka panopot i.

Natorasna, Guru Solandason, tung mansai longang do mamereng boruna nasasada on. Parsip do boru saroding on, malo martonun, ringgas mangula ulaon, bah sandok tahe tung mansai las do rohani natorasna mamereng pangalahona. Naburju do ibana marnatoras, songoni nang mardongan, jala somba marhula-hula. Bah tung si pilliton ma nian ibana gabe parsonduk bolon nang gabe parumaen.

Tikki martapian boru saroding huhut manganggiri obukna na ganjang jala mansai godang i di topi ni tao i, ro ma sada solu manjonohi ibana. Pangisi ni solu on sahalak baoa na jongjong di solu na. Tung mansai tongam, jogi, jala marpitonggam do rumangni baoa parsolu on. Mamereng rumangna dohot paheanna ulos Batak namansai bagak, hira na so partoba do ulaonna; nasomal jala jotjot marhumaliang di tao i. Lam jonok, lam mallobok ma tarottok ni boru Saroding. “Ai ise do nuaeng baoa on?” Sukkun-sukkun ma rohana. Solu i pe lam jonok ma attong tu paridianna. Dipahatop boru Saroding pasidungkon partapiananna, ala maila ibana adong sada baoa naposo mamereng-mereng ibana.

Hatopma boru Saroding mangalakka tu jabuna, alai pintor dipangkulingi baoa par solu i ma ibana: “Boru ni raja nami, ai boasa hamu humibu-hibu mulak?”

Songgot ma rohani boru Saroding, dipaso ibana ma lakkana huhut ditailihon tu lahi-lahi namanjou i. “Bah…, tung mansai jogi jala tongamma baoa on” inna rohana. Didok ibana ma sidalianna nanaeng godang dope siulaon na di jabu, ido umbahen hatop ibana mulak. Marsitandaan ma nasida, dipaboa lahi-lahi ima asalna sian dolok ni Rassang Bosi-Sabulan namargoar “Ulu Darat”. Disi do inna ibana maringanan. Dipatorang baoa ima aha do sakkapna mandapothon boru Saroding, jala dipangido ibana ma asa dipantadahon tu natua-tuani boru Saroding. Ala pintor lomo rohani boru Saroding marnida baoa i, las ma tutu rohana; rap mardalan ma halahi tu hutana. Hurang tibu nian didok rohana sahat tu huta, asa pintor dipatandahon baoa i tu natorasna.

Longang ma natoras dohot akka iboto nang anggina ala ro sian tao boru Saroding mardongan sada baoa. Sude do halahi pintor tarhatotong mamereng bohi dohot pangkataionni lahi-lahi i. Songon na hona dorma do halahi mamereng bagak ni rumang ni lahi-lahi i. Pamatang na pe mansai togap. Jeppet ni hata, dihatahon lahi-lahi ima sakkap na, naeng pangidoonna boru Saroding naeng gabe parsonduk bolon na. Ala nungnga lomo rohani boruna, pittor dioloi jala dipaboa Guru Solandason ma tu akka dongan tubuna. Dang sadia leleng, dipasaut ma parbogason ni boru Saroding dohot lahi-lahi i.

Dung sidung ulaon parbogason, borhat ma boru Saroding mangihuthon lahi-lahi naung gabe tunggane doli na, marluga solu tu Ransang Bosi. Tung longang do boru Saroding alana mansai hatop do halahi sahat. Lam longang ma ibana ala di dok tunggane doli nai hutana di ginjang ni dolok, di tonga ni tombak Ulu Darat. Las dope rohani boru Saroding, mardomu muse tikki namardalan halahi manganangkohi dolok natimbo i ditogu-togu tunggane dolinai, tung mansai hatop jala niang do lakkana. Dang loja ibana namandalani dolok na rais i, songoni nang lahi-lahina, tung so hir do hodok ni halahi.

Tung mansai golap do tombak siboluson ni halahi, alai dang maol didalani halahi nadua. Sahat ma halahi tu undung-undung ni lahi-lahi i, bah rupani maradian ma boru Saroding. Tarpodom ma halahi sahat tu manogot na. Tikki dungo ibana di manogotna, dang dibereng ibana tunggane dolinai. Dibereng ibana tu pudi nang tu jolo, dang di si amantanai. Tarsonggot ma ibana ala dibereng ibana manginsir sada ulok namansai bolon di tonga-tonga ni hau di joloni alamanni jabu i. Mabiar ma boru Saroding, pintor ditutuphon ibana ma pittu ni jabu i. Dang hea dope dibereng ibana songoni balga na ulok, alai uluna dang songon bohi dohot ulu ni ulok. Ngongong ma ibana di tonga nijabu.

Dang sadia leleng dibege ibana ma tunggane dolinai manjou goarna, asa dibukka pittu ni jabu. Hinsat ma boru Saroding mambuka pittu jala pittor dihatahon ibana ma tu tunggane dolinai na adong sada ulok na mansai bolon di jolo ni jabu i. “Dang pola boha i, ulok na burju do i,” ninna tunggane dolinai mangalusi.

Tung mansai naburju do tunggane dolinai marnioli, dipasonang do roha ni boru Saroding di si ganup ari. Dang dipaloas loja mula ulaon, ai pintor sikkop do sude akka naniporluhon ni hasida nadua. Malo do lahi-lahi nai mambahen si parengkelon, diharingkothon do mangalului akka boras ni hau dohot suan-suanon naboi mambahen boru Saroding tontong uli.

Alai sai sukkun-sukkun jala longang do boru Saroding marnida somal-somal ni tunggane dolinai di siapari. Sada tikki tarbereng simalolongna ma lahi-lahi nai di para-para ni jabu marganti pamatang gabe ulok na bolon! Mansai bolon, songon ulok na hea diberengsa di jolo ni jabu i. Alai paula so diboto ibana ma, ala mabiar ibana murung annon ulok i. Manginsir ma ulok na bolon i haruar sian jabu manuju tombak, tading ma boru Saroding di jabu. Tung mansai biar jala manolsoli ma dirina napintor olo manjalo hata ni baoa i dang jolo manat dirimangi, ai dang jolma biasa hape.

Botari nai mulak ma tunggane dolinai mamboan akka nalaho sipanganon ni halahi, boras ni hau, suan-suaonon, nang akka jagal, tarsongon ursa, aili, pidong, dohot akka na asing. Dung sidung mangaloppa dohot mangan halahi, manghatai ma tunggane dolinai tu boru Saroding. Dipaboa ibana ma ise do dirina: sombaon ni Ulu Darat, na sipata gabe ulok sipata gabe jolma. Dang pola dipataridahon boru Saroding songgop ni rohana, mengkel suping sambing do ibana tu lahi-lahi nai patudu holongna, tung pe di bagas rohana nungnga mansai biar jala manolsoli. Las ma tutu roha ni lahi-lahi i mamereng boru Saroding.

Sada tikki ro ma duatsa akka iboto ni boru Saroding mangebati halahi tu dolok ni Ulu Darat. Ai sai masihol do ninna halahi marnida iboto hasian ni halahi. Las hian ma rohani boru Saroding didalani akka hula-hulana hutana di dolok na timbo jala ikkon mangalosi tombak namansai jorbut. Dilehon do akka sipanganon natabo tu akka iboto nai, sombu jala puas do halahi namaribot manghata-hatai dohot marsipanganon. Mandapothon bot ni ari, diboto boru Saroding do parroni tunggane dolinai sian tombak langa-langa. Mabiar ma ibana molo tarboto tu lahi-lahi na sombaoni na ro akka iboto na mandapothon halahi marsihol-sihol, alana diboto ibana do siallang jolma do ibana molo tikki gabe ulok.

Sian na dao pe nungnga diboto ibana soara ni ulok i, mardisir-disir do soarana. Humalaput ma boru Saroding manabunihon ibotona natolu i tu ginjang ni para-para, martabuni di toru ni bukkulan ni jabu, asa unang dibereng tunggane dolinai. Sahat ma tu jabu amantanai, alai pintor songon na asing ma panganggona. “Ai songon na adong uap ni pamatang ni manisia huanggo?” inna ibana manukkun boru Saroding.

Busisaon ma boru Saroding, humalaput ma ibana mambahen sipanganon ni lahi-lahi nai. Dung sidung marsipanganon, modom ma halahi. Alai anggo mata dohot igung ni tunggane dolinai sai maos do momar jala dipasittak-sittak ala adong ninna uap ni jolma di jabu i. “Dang adong halak na asing di jabutta on” ninna boru Saroding, “Modom ma hita, nungnga mansai bagas be borngin.” Alai sai lulu do tunggane nai di uap ni manisia i, bah ujung na rupani, mardongan biar dipaboa boru Saroding ma naro do hula-hula ni halahi sian Samosir ala masihol mamereng halahi nadua. “Sombakku ma tunggane doli,” ninna ibana mangelek, “paloas ma akka ibotokki mandulo hita. Ai holan alani namasihol do hula-hulattai asa ro halahi tu tu dolok Ulu Darat on.”

Ujung na rupani didok baoa i ma asa dijou duatsa iboto ni boru Saroding i asa tuat tu bagas ni jabu sian partabunion nasida di toru ni tarup. Marsijalangan ma nasida, jala borngin i gabe holan namanghata-hatai ma sahat tu manogot. Dung binsar mataniari marsakkap ma borhat akka Pandiangan natolu i mulak tu Samosir.

“Ai aha do lehonon muna lae tu hami songon boan-boan nami tandani naung niebatan huta muna boru nami?” ninna sahalak Pandiangan iboto ni boru Saroding i. “Nauli ma raja nami,” ninna baoa i mangalusi. Dilehon ibana ma sada-sada be gajut nagelleng naung marrahut tu akka hula-hula nai. Alai didok ibana ma: “Holan on do pe naboi tarpatu au raja nami, alai unang pintor bukka hamu gajut on di dalan manang dung sahat hamu tu huta muna. Dung pitu ari pe asa boi ungkapon muna gajut on” Diundukhon akka iboto ni boru Saroding ma hatani lae nai. Mulak ma halahi tuat sian dolok Ulu Darat, marsolu ma muse sahat tu Samosir. Dung sahat halahi di huta nasida, dipatorang ma rupani tu inanta na be pardalanan ni nasida jala dipatuduhon ma boan-boan na nilehon ni lae nasida.

Songon na marungut-ungut ma sada Pandiangan on alana holan gajut nagelleng naso diboto isi na do di lehon lae nai tu nasida, hape nungnga loja halahi mangebati tu dolok Ulu Darat. Jeppet ma sarito, sada Pandiangan on dang sabar paimahon pitu ari songon natinonahon ni lae nai. Marsogot nai pintor di suru ma inanta na mambukka gajut i asa tarboto manang aha do isana. Alai molo anggina siampudan (molo so sala), sabar do paimahon pitu ari, jai dang dibukka ibana gajut na ditiopna. Tek ma rupani, holan dibukka ibotoni boru Saroding gajuti, holan tano, hotang, hunik, dohot akka gulok-gulok do isina. Muruk ma ibana, diburai ma tunggane doli ni ibotonai jolma nasomaradat. “Bah hea do lak songon on ma lehonon na tu hula-hula na?” ninna halahi mardongan rimas. Dibolokkon ma gajut i. Sai dijujui ma asa anggina na sada nai mambukka gajut i, sarupa do isina manang dang. Alai martahan do anggina i dang mambukka gajut i sampe pitu ari.

Di ari papituhon, dibukka ma gajut i di alaman ni huta. Pintor haruar ma godang akka gulok-gulok, alai dang sadia leleng gabe horbo dohot lombu ma gulok-gulokhi. Tung mansai godang do horbo dohot lombu i, sampe do ponjot alamani ni huta i. Hunik nasian gajut i pe gabe mas, markilo-kilo godangna, jala gabe godang ma tubu hotang di pudi dohot panimpisan ni jabu. Dang pola leleng, gabe mamora jong attong iboto ni boru Saroding nasasada on. Sinur nang pinahan, gabe naniulana, jala godang mas nang hotangna. Hata ni legenda, sahat tu sadari on, pinompar ni Pandingan on ma nahasea jala akka namora.

Dung hira-hira piga bintang (najolo, dang bulan di dok, bintang do. Jadi sabintang, sarupa mai sabulan di saonari), dipangido boru Saroding ma tu tunggane nai asa dipaloas ibana mandulo huta ni natorasna, ala tung mansai masihol ibana ninna. “Hatop pe au mulak,” ninna ibana do mangelek, asa dipaloas tunggane nai. Songon na borat do diundukhon lahi-lahi nai pangidoanni boru Saroding. “Adong gorathu dang na laho mulak be ho tu Ulu darat on” ninna tunggane dolinai. Sai dielek-elek boru Saroding ma lahi-lahi nai, marjanji do ibana dang leleng di huta ni natorasna. “Sombakku ma raja nami, palias ma i. Hodo tungganekku, dipasonang-sonang ho do ahu saleleng on, dung parsonduk bolonmu au. Pintor mulak pe au” ninna boru Saroding mangelek. Ala nungnga sai torus dipangido jala dielek boru Saroding, bah dipaborhat lahi-lahi nai ma ibana sahat tu topi tao ni Ransang Bosi.

Sada bulung do ninna dibuat lahi-lahi nai dibahen gabe solu nalaho dalan ni boru Saroding. Alai didok ma hata na parpudi: “Boru Saroding nauli, boru ni raja do ho. Jadi porsea do au di hatam namandok tung mansai holong do roham tu au. Jai porsea do au ikkon hatop do ho mulak sian huta ni natorasmu. Jai ikkon marpadan do hita diparborhathon songon mangarahut holong ni roham tu au.” Diundukhon boru Saroding ma, jala didok songon on: “Dok ma padan i tunggane dolikku naburju.” Dungi didok lahi-lahi nai ma padan songon paborhathon boru Saroding naung hundul di solu: “Dekke ni Sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise si ose padan tu ripurna tumagona.”

Borhat ma boru Saroding, dilugahon ibana ma soluna–na sian bulung-bulung i. Tung mansai tonang do tao Toba, dang adong umbak jala alogo pe mansai lambok, langit pe mansai tiar. Tading ma lahi-lahi nai manatap sian topi ni tao, bohina tung lungun do ditadinghon parsonduk bolon na mansai dihaholongi rohana. Dang pola sadia dao dope boru Saroding marluga, manaili ma ibana tu pudi, didok ibana ma songon on: “Peh…! Bursik ma ho, ai dang jolma ho hape. Sombaon do ho! Ulok nabolon! Unang dirippu ho nalaho mulak be au tu ho! Palias mai. Ai so jolma ho…” Holan sae didok boru Saroding hatana, pintor ro ma alogo halisunsung dohot udan na marimpot-impot. Tao ipe pintor timbo galumbangna. Mabiar jala songgot ma rohani boru Saroding. Sai dilugai ibana solu nai alai dang tolap mangalo umbaki. Dang sadia leleng pintor balik ma solu na, manongnong ma ibana jala gabe dohot ma ibana sombaon pangisi ni tao i.

Sahat tu sadari on dihaporseai sabagian pangisini Rassang Bosi, Dolok Martahan, Sabulan, Palipi, Mogang, Hatoguan, Janji Raja, Tamba, Simbolon, do turi-turian on dohot nagabe boru Saroding pangisini tao i. Sai manat-manat do halak molo mangalewati tao i, dang marsitijur, dang boi mambolokhon akka na kotor tu taoi, jala unang tuit-tuit molo pas marsolu, markapal, manang marbot. Jala lahi-lahi ni boru Saroding gabe dijouhon do i “Amangboru Saroding.” Alani holong na tu boru Saroding, sipata tuat do ninna ibana sian Ulu Darat tu tao i, bahat do ninna halak naung hea mamereng: ulok na saganjang hau ni harambir/kalapa do inna marlange-lange di tao i.

Di Sabulan pe, apala di topi ni dolok Ulu Darat i, di huta Pandiangan, adong do sada inganan namargoar “Parpangiran ni Namboru boru Saroding.” Buni do inganan on, godang hian dope hau songon tombak. Alana sian na met-met nungnga manusia na sok ingin tahu au, nungnga hudalani inganan on, hutogihon akka ito, namboru, inangudakku, alana au sandiri pe mabiar do mardalan sandiri tusi. Adong do sada hau nabolon di ginjang ni mual na diyakini akka jolma (kessuali akka pangula ni huria) songon inganan parpangiran ni boru Saroding. Percaya tidak percaya, di ranting ni hau i tubu utte pangir (jeruk purut), semacam tanaman benalu, alai dang boi buaton i. Tokka do ninna molo dibuat, olo ro parmaraan. Alai molo maruntung do naro tu si, pintor dabu do annon anggir i, diboan ma i tu jabuna be.

panuturi: Suhunan Situmorang, penulis novel ‘Sordam’
tulisan ini diambil dari http://rapolo.wordpress.com/2008/05/11/boru-saroding-pandiangan/

Air Danau Toba meluap dari ketinggian 905 meter di atas permukaan laut (dpl) melintas sepanjang ratusan kilo meter hingga terhempas di Selat Malaka. Itulah Sungai Asahan. Untuk membangkitkan listrik, arus deras ini dijinakkan kemudian diarahkan memukul baling-baling turbin.

Ada 3 paket pembangkit listrik yang dirancang untuk memanfaatkan aliran Sungai Asahan, satu paket sudah berproduksi yakni PLTA Asahan 2, satu paket lagi direncanakan akan berproduksi pada tahun 2010 yakni PLTA Asahan 1, dan paket terakhir adalah PLTA Asahan 3 sedang proses perijinan untuk dibangun. Penomoran PLTA-PLTA ini berdasarkan urutan linear, nomor kecil di hulu dan nomor besar di hilir.

Total kapasitas terpasang dari tiga PLTA yang dirancang Nippon Koei Co, Ltd di sepanjang Sungai Asahan adalah 963 MW. Berbeda dengan rancangan Rusia (USSR), pada tahun 1964 Hydro Project Moscow merencanakan kapasitas terpasang sebanyak 1.202 MW dari 5 Power Station, yakni di Simangkuk 120 MW, di Simorea 150 MW, di Sigura-gura 320 MW, di Tangga 412 MW dan di Tratak 200 MW. Pernah angka-angka ini saya terangkan kepada penduduk di Porsea, seorang dari mereka nyeletuk: “Pagodanghu do ceritam Lae, maos mintop do listrikta”

PLTA Asahan 1

PLTA Asahan 1 berada di hulu tetapi bukan berarti dibangun lebih awal, justru PLTA Asahan 2 yang dibangun lebih awal. PLTA Asahan 1 mulai dikerjakan pada tahun 1996 oleh PT Bajradaya Sentra Nusa, sebuah perusahaan swasta nasional, akibat krisis moneter pada tahun 1997 proyek ini ditangguhkan, sembilan tahun sesudah itu, tepatnya pada tahun 2006, proyek ini dikerjakan kembali setelah PT Bajradaya Sentra Nusa menggandeng China Hua Dian, perusahaan dari Cina Daratan. PLTA berkapasitas 2 x 90 MW ini ditargetkan selesai 39 bulan, atau akan menghasilkan listrik pada tahun 2009.

Akibat berbagai problema diperkirakan proyek ini tidak menepati jadwalnya untuk berproduksi pada tahun 2009, syukur kalau PLTA 1 dapat beroperasi pada tahun 2010.

PLTA Asahan 2

Masyarakat jarang menyebut dan mendengar PLTA Asahan 2, padahal PLTA Asahan 2 adalah seluruh paket konstruksi PLTA yang dibangun PT Inalum pada tahun 1976 – 1982 untuk digunakan menghidupkan tungku-tungku peleburan aluminium dan memenuhi kebutuhan enerji listrik untuk perkantoran dan perumahan bagi karyawan di Kuala Tanjung dan di Paritohan. Paket pembangunan PLTA dan Peleburan aluminium beserta bangunan pendukung bernilai 411 miliar yen, tercatat sebagai proyek termahal di Indonesia. Belum ada nilai paket proyek di Indonesia yang menandinginya hingga saat ini.

Pembangunan PLTA Asahan 2 dimulai dengan mengeruk lumpur dan pasir dari dasar Sungai Asahan sepanjang 13,6 km, agar debit air lebih banyak mengalir untuk memukul baling-baling sejumlah turbin. Di hulu dibangun waduk pengatur atau Regulating Dam persisnya di Dusun Siruar.

Di hilir Regulating Dam, dibangun dua pusat pembangkit listrik yaitu di Sigura-gura dengan kapasitas terpasang 4 x 71,5 MW, dan di Tangga dengan kapasitas terpasang 4 x 79,2 MW. Dengan total kaspasitas terpasang 603 MW,  kedua power station ini dapat menghasilkan listrik sebanyak 3.922.000.000 Kwh per tahun.

PLTA Asahan 3

Pada tahun 2003 tersiar berita bahwa PT Mega Power Mandiri akan membangun PLTA Asahan 3, tetapi berita itu tiba-tiba redup. Sesudah itu tersiar pula kabar bahwa yang akan membangun PLTA Asahan 3 adalah PLN dengan konsultan Nippon Koei Co, Ltd, dananya sudah stand by di JBIC, Japan Bank For International Cooperation, lembaga keuangan dari Negeri Sakura.

Pada akhir 2008 terbetik berita mengejutkan, ternyata ijin lokasi PLTA Asahan 3 yang baru, telah diterbitkan kepada IPP,  Independent Power Producer dari China Hua. Artinya PLTA Asahan 3 akan dibangun segera, begitu pengertian dan harapan masyarakat, terutama masyarakat Tapanuli.

Hingga saat ini, setahun setelah ‘ijin lokasi yang baru’ ditanda-tangani, belum ada kesibukan sekecil apapun pertanda PLTA Asahan 3 belum dibangun.

PLTP Sarulla

Proyek PLTP Sarulla pertama kali dimiliki oleh perusahaan asal Amerika Serikat Unocal, kemudian dijual kepada PT PLN karena tidak mencapai kata sepakat soal harga jual listrik ini dengan PT PLN sendiri, lalu Proyek ini ditenderkan kembali dan dimenangkan anak perusahaan PT PLN dan Pertamina: PT Geodipa.

Ketidakjelasan pendanaan membuat PLTP Sarulla ditenderkan lagi dan dimenangkan konsorsium Sarulla Operation Limited (SLO) yang terdiri dari Medco, Itochu dan Ormat. Diyakini bahwa pengembang terakhir ini tidak akan hengkang karena selama negosiasi harga berlangsung, kegiatan fisik terus dilakukan.

Sedianya PLTP Sarulla sudah menghasilkan listrik sebesar 110 mega watts (MW) pada tahap pertama tahun 2010, disusul dengan 110 mega watts (MW) pada tahap kedua tahun 2011, kemudian disusul lagi dengan 115 mega watts (MW) pada tahap ketiga tahun 2012 sehingga total kapasitas PLTP Sarulla mencapai 335 MW, namun negosiasi harga jual dengan PT PLN belum mencapai titik temu. Kondisi ini akan membuat PLTP Sarulla terlambat masuk Interkoneksi Sumatera.

15 tahun sudah perjalanan PLTP Sarulla meliuk-liuk bagai Aek Sarulla. Segerombol naposo bertanya dengan jenaka pertanda pura-pura tidak tahu, kadang kala mata mereka berkaca-kaca mungkin mereka tidak tahu, dan senandung itu pun meruak cakrawala: “Aek Sarulla tudia ho lao, tung ganjang ma antong dalanmi, tung paboa ma jolo tu ahu baritam di tonga dalan i”

1.800 MW

Apapun harapan dan gundah yang dibersitkan tulisan ini, satu hal yang mengemuka adalah bahwa eks keresidenan Tapanuli yang sebagian buminya terletak dekat laut dan sebagian lainnya di 1.000 m dpl berpotensi mengalirkan banyak listrik memasuki Interkoneksi Sumatera, diperkirakan dapat membangkitkan listrik berkapasitas 1.200 MW hanya dari tenaga air, belum lagi dari tenaga panas bumi. Sekadar pembanding, kebutuhan Sumatera Utara yang dikelola PT PLN saat ini sebanyak 1.200 sampai 1.400 MW.

Tanpa memasok bahan dari luar, wilayah yang dicap ‘peta kemiskinan’ ini dapat menghasilkan enerji listrik ramah lingkungan berkapasitas 1.800 MW dalam lima tahun ke depan apabila semua pihak bekerja keras dan tulus. Semangat ini hanya mengadalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, belum menyertakan PLTU Labuhan Angin di Tapanuli Tengah dengan kapasitas terpasang 2 x 115 MW karena pembangkit ini tidak 100% menggunakan kandungan Tapanuli, pembangkit ini memasok batu bara dari luar wilayah.

Itulah Tapanuli Power.

Terjemahan Bahasa Lokal dalam posting:

“Pagodanghu do ceritam Lae, maos mintop do listrikta ….” (Toba)

“Terlalu banyak ceritamu Lae, sering-sering padam kok listrik kita ….”

Naposo (Toba)

Muda mudi

Aek Sarlla tudia ho lao, tung ganjang ma antong dalanmi, tung paboa ma jolo tu ahu baritam di tonga dalan i …. (Toba).

Sungai Sarulla kemana kau pergi, kok panjang sekali perjalananmu, tolong katakan padaku kisahmu di perjalanan ….

Penjelasan: untaian panjang itu adalah syair lagu “Aek Sarulla”. Lagu ini diketahui oleh setidaknya 80% masyarakat Tapanuli dari anak-anak hingga dewasa.

Balige, 02 September 2009
From :  Partapanuli

Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer. Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer. Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memory dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya. Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte

Mas, saya mahasiswa semester 4, saya kok merasa otak saya bebal banget, nggak bisa nangkep mata kuliah dengan sempurna. Gimana caranya supaya saya bisa cerdas dan pinter? (Ahmad, Depok)

Hmm…………, supaya pinter ya belajar mas hehehe. Kalau dosen jawab seperti itu pasti disebut basbang alias basi banget.  Diskusi masalah kecerdasan manusia, tentu tidak bisa tanpa menyinggung masalah otak manusia, karena disini awal segala kisruhnya. Kapasitas otak manusia sangat besar, bahkan ada yang menyebut tidak terbatas. Hanya sayangnya orang biasanya hanya menggunakan 1% dari otaknya, sedangkan orang jenius berhasil menggunakan 4-5% otaknya. Lha kok bisa? Dan bagaimana supaya kita juga bisa jadi cerdas? Ikuti terus tulisan ini.

Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer. Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer. Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya. Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte.

Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya.

Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka bumi ini!

Lha kok, tapi di kelas ada yang cerdas dan ada yang tidak? Itu karena sistem retrieval (pencarian kembali) manusia berbeda-beda. Orang yang cerdas itu adalah orang yang memiliki sistem retrieval yang baik. Seperti sebelumnya saya sebutkan diatas, kapasitas otak manusia mungkin mencapai 1000 terabyte, bayangkan seandainya laptop kita berkapasitas 1000 terabyte, pasti lambat melakukan pencarian file, apalagi kalau letak fisik filenya tidak tertata dengan baik alias terpecah-pecah di berbagai tempat dalam hardisk kita.

Trus gimana caranya supaya sistem retrievalnya bagus? Ada banyak cara komputasi yang bisa dilakukan, paling tidak untuk mengatasi informasi yang tidak tertata dengan baik, kita menggunakan tool defragmenter. Defragmentasi? ya, lakukan defragmentasi pada otakmu!

Sebagai catatan, kata wikipedia, defragmentasi adalah sebuah proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi internal. Sebuah berkas dikatakan terfragmentasi mana kala berkas tersebut tidak menempati ruangan yang saling berdekatan dalam penyimpanan fisik. Fragmentasi dapat menyebabkan subsistem media penyimpanan melakukan operasi pencarian data yang lebih banyak, sehingga dengan kata lain berkas terfragmentasi dapat memperlambat kerja sistem, khususnya pada saat melakukan operasi yang berkaitan dengan media penyimpanan.

Jadi ketika kita menerima materi pelajaran, sebenarnya kita semua berhasil menangkap semua yang diajarkan oleh guru atau dosen kita. Namun ada yang kita simpan di bumi dan ada yang terlempar di bulan, inilah yang disebut dengan fragmentasi itu.

Trus gimana caranya supaya kita bisa mendefragmentasi otak kita? Caranya adalah dengan mengulang-ulangi pelajaran. Mengulang-ulang pelajaran, itu sama saja dengan menarik materi yang terlempar di bulan tadi supaya mendekat ke bumi, sehingga lebih cepat ketika kita mencari kembali. Dan ini sesuai dengan yang dikatakan Adam Kho, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang neuron-neuronnya saling tersambung (neuron-connection). Semakin banyak hubungan antarneuron, maka semakin cerdas kita dalam suatu bidang. Kecerdasan itu bisa kita latih!

Sayapun tidak terlahir secara default sebagai orang cerdas, masa TK-SD saya pernah mengalami kendala sulit membedakan huruf b dan d. Sampai ada satu ungkapan guru saya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Rom, b itu yang bokong(pantat)nya dibelakang, dan d itu yang bokongnya di depan“. Ada juga guru yang menyebut saya terkena disleksia kompleks, plus ditambahi dengan anak yang suram masa depannya hehehe sempurna deh.

Jadi? Kalau saya yang disleksia kompleks saja bisa, kenapa anda tidak?

Wahai pedjoeangku, ulang-ulangi pelajaran, banyak mencoba, banyak membaca, banyak berlatih, telani satu persatu hal yang belum kamu pahami, hubungkan neuron-neuronmu, maka kecerdasan akan mengikutimu …

Tetap dalam perdjoeangan!

Oleh:  Romi Satria Wahono
From :  Partapanuli

RAJA LONTUNG merupakan nenek moyang dari beberapa marga besar Suku Batak. Sering disebut dengan kalimat “Lontung Sisia Sada Ina, Pasia Boruna Sihombing dohot Simamora”, karena semua putra-putri Raja Lontung berjumlah 9 orang. Raja Lontung mempunyai 7 anak dan 2 boru yang dianggap sebagai anak.

Tuan Sariburaja adalah ayah dari Raja Lontung dan Tuan Sariburaja merupakan putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Si Boru Pareme menggoda abangnya sendiri Sariburaja, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest. Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk membunuh Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil.

Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara karena mereka menganggap bayi yang akan dilahirkannya cacat secara adat Batak. Namun, setelah sampai di hutan Sariburaja kebetulan bertemu dengan Siboru Pareme.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi temannya di hutan. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan yang dalam keadaan bersalin sampai akhirnya Siboru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Seperti ditulis diatas, Si Raja Lontung memiliki keturunan 7 anak dan 2 boru.

Keturunannya tersebut, antara lain:

    • Putra

1.    Toga Situmorang (Situmorang)

2.    Toga Sinaga (Sinaga)

3.    Toga Pandiangan (Pandiangan)

4.    Toga Nainggolan (Nainggolan)

5.    Toga Simatupang (Simatupang)

6.    Toga Aritonang (Aritonang)

7.    Toga Siregar (Siregar)

  • Putri

8.    Siboru Panggabean (yang menikah dengan Sihombing)

9.    Siboru Anak Pandan (yang menikah dengan Simamora)

Dari putra – putra Raja Lontung ini masih banyak percabangan marga Batak, yakni:

I.        Toga Situmorang

1.    Raja Pande.

2.    Raja Nahor.

3.    Tuan Suhut ni Huta.

4.    Raja Ringo (Siringoringo).

5.    Sitohang Uruk.

6.    Sitohang Tonga2.

7.    Sitohang Toruan.

II.     Toga Sinaga

1.    Raja Bonor >> Sidahapintu.

2.    Raja Ratus >> Simaibang.

3.    Sagiulubalang (Uruk) >> Simandalahi, Simanjorang.

III.     Toga Pandiangan

1. Raja Humirtap (yang kemudian lebih dikenal dengan marga Pandiangan).

2. Raja Sonang (Gultom, Sidari *Samosir*, Pakpahan, Sitinjak).

- Sidari lebih dikenal dengan Marga Samosir.

- Samosir memiliki lagi marga keturunan, yakni: Harianja, Bolon dan Surung

IV.        Toga Nainggolan

1. Toga Batu (Batuara, Parhusip)

2. Toga Sihombar (Rumahombar, Mogot Pinaungan, Lumban Siantar, Hutabalian)

- Pinaungan >> Lumbantungkup, Lumbanraja.

V.         Toga Simatupang

1. Sitogatorop.

2. Sianturi.

3. Siburian.

VI.     Toga Aritonang

1. Ompu Sunggu.

2. Rajagukguk.

3. Simaremare

VII.      Toga Siregar

1. Silo.

2. Dongoran.

3. Silali.

4. Sianggian.

Marga Sinaga didapati juga di Samosir Selatan dan selain itu di Dairi dan di tempat lain. Di Simalungun terdapat cabang Sinaga, yakni: Sidahapintu, Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang. Di daerah Pagagan-Dairi didapati juga marga Simaibang dan Simanjorang, di Sagala-Samosir juga ada marga Simanjorang.

Pandiangan pindah dari Sabulan ke Palipi-Samosir. Marga Pandiangan tinggal di Samosir Selatan dan ada juga yang ke Dairi. Kemudian karena didaerahnya terjadi kemarau dan bahaya kelaparan, sebagian dari marga Gultom meninggalkan Samosir ke daerah Pangaribuan (Silindung, Tapanuli Utara). Dikemudian hari ada juga marga Harianja dan Pakpahan ke Pangaribuan. Inilah penyebabnya marga yang mayoritas di Pangaribuan sampai sekarang ini adalah Gultom, Harianja dan Pakpahan.

Nainggolan pindah dari Sabulan ke daerah suatu daerah di Selatan Samosir. Dikemudian hari mereka menyebut tempat itu Nainggolan (yang sekarang menjadi sebuah daerah kecamatan di Samosir). Keturunan Nainggolan ada juga di daerah Pahae.

Simatupang terdapat di daerah Humbang, selain itu ada juga yang ke daerah Dairi, Barus, dan Sibolga. Marga

Aritonang tinggal di daerah asal Humbang dan ada sebagian tinggal di Harianboho, Samosir.

Siregar pindah ke lobu Siregar (dekat Siborong-borong). Dari situ marga Siregar berpencar sampai ke Tapanuli Selatan melalui Pangaribuan. Sesudah Lobu siregar ditinggalkan daerah itu didiami oleh marga Pohan. Perpindahan Siregar inilah yang menyebabkan daerah Tapanuli Selatan (Angkola-Mandailing) banyak ditemui marga Siregar, bahkan bisa dikatakan salah satu marga mayoritas disana.

Ada marga-marga di Dairi yang berasal dari keturunan Lontung diantaranya: Padang, Berutu, Solin dan Benjerang. Marga Perangin-angin di tanah Karo masuk ke golongan Lontung.

Bogor, 22 Juni 2010
Adapted from :
Berbagai sumber, terutama Raja Adat & Kepala Suku Batak

gPada Hari Minggu, 13 Juni 2010 Mahasiswa Diploma IPB yang program keahliannya Informatika dan Teknik KOmputer sedang mengadakan seminar tentang peningkatan webometrik IPB.